Senin, 14 Maret 2016

Pakar: Libatkan Australia, AS dan China di Ambang Perang


Rencana Amerika Serikat (AS) untuk menyebarkan pesawat bombernuklir B-1 di Australia karena khawatir dengan ekspansi militer China di Asia Pasifik dianggap langkah berbahaya. Pakar keamanan global menyebut AS dan China di ambang perang dengan melibatkan Australia.

Rencana AS itu dipicu tindakan China yang dituding Pentagon melakukan militerisasi di pulau sengketa di Laut China Selatan. China telah geram dengan rencana AS untuk menyebar pesawat B-1 di Australia.

Profesor Joseph Siracusa, pakar pada Human Security and International Diplomacy di Royal Melbourne Institute of Technology University, mengatakan langkah AS dengan melibatkan Australia dalam kebuntuannya dengan China menunjukkan bahwa situasi di Laut China Selatan akan menjadi “subjek intensif untuk enam bulan ke depan”.

Menurut Sircusa, Beijing sebenarnya berusaha untuk hati-hati menjauhkan Australia dari konflik dengan AS terkait krisis Laut China Selatan. Tapi, kini AS melibatkan Australia dalam konflik itu.

Pemerintah Australia memainkan kartu ini dekat dengan dada. Mereka ingin dilibatkan Amerika lebih dan lebih (di Laut China Selatan),” ujarnya kepada Sputniknews, Jumat (11/3/2016).

Dia melihat militer dan publik Australia selama ini cenderung mendukung langkah pemerintah Australia. Beberapa yang kontra hanya dari komunitas akademik.

Profesor Siracua melanjutkan, Amerika telah mengambil keuntungan dari situasi sekarang, dengan bergegas untuk memperkuat hubungan mereka dengan militer Australia. Hal itu sebagai upaya Washington untuk menggeser keseimbangan kekuasaan di wilayah regional Asia.

Presiden AS, Obama telah berusaha untuk menyeimbangkan atau menggeser keseimbangan,” kata Siracusa. "Itu berarti bahwa terjadi pergeseran aset Amerika di berbagai belahan dunia,” imbuh dia.

Sementara itu, Beijing telah menempatkan sistem rudal canggih di Laut China Selatan, dan tidak mengakui hak kebebasan bernavigasi yang diklaim AS dengan alasan, wilayah kepulauan di Laut China Selatan merupakan kedaulatan Beijing.

Kami melihat banyak penumpukan (kekuatan) klimaks di sini,” kataSiracusa.”Angkatan Laut China benar-benar telah dikerahkan dengan menghentikan Angkatan Laut AS,” sambung dia.

Menurutnya, indikator ketegangan ini menjadi penegasan bahwa situasi yang terus memanas bisa tumbuh menjadi perang antara China dan AS.

Sumber:Sindonews

AS-Korsel Gelar Latgab, Korut Siaga Penuh


PYONGYANG -  Korea Utara (Korut) dilaporkan tengah dalam status siaga penuh guna menanggapi rencana latihan perang gabungan antara Korea Selatan (Korsel) dan Amerika Serikat (AS) di selat Korea. Korut mengaku akan melancarkan serangan jika latgab itu memberikan ancaman kepada mereka.
 
"Unit garis depan telah siap untuk menyerang. Terlebih, jika mereka melihat tanda-tanda bahwa pasukan AS dan Korsel yang terlibat dalam latihan gabungan sedang berusaha untuk menyerang kami," kata staf umum Angkatan Darat Korut (KPA), seperti dilansir Al Jazeera pada Sabtu (12/3).
 
Staf umum KPA, dalam pernyataannya bahkan menyebut serangan yang mereka lakukan bukan hanya terhadap pasukan AS dan Korsel yang melakukan latihan gabungan, tapi juga seluruh Korsel. Operasi militer itu, menurut KPA adalah operasi pembebasan Korsel.
 
"Kami akan melawan latihan oleh AS dan Korsel dengan rencana untuk membebaskan seluruh Korsel,  termasuk Seoul dan juga bahwa itu mampu melaksanakan serangan ultra-presisi blitzkrieg," sambungnya.
 
Menanggapi pernyataan KPA, pihak militer Korsel mendesak Korut untuk berhenti melakukan tindakan provokatif. Militer Korsel juga memperingatkan, setiap provokasi akan mengakibatkan kehancuran terhadap rezim Kim Jong-un.


Sumber:Sindowews

 

Garda Revolusi Iran Uji Tembak Sejumlah Rudal Balistik



TEHERAN - Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) Iran menguji tembak sejumlah rudal balistik pada Selasa (8/3/2016). Aksi itu untuk menentang penjatuhan sanksi Amerika Serikat (AS) terhadap program rudal Iran.

Tes ini dimaksudkan untuk menunjukkan daya tangkal Iran dan juga kemampuan Republik Islam untuk menghadapi setiap ancaman terhadap Revolusi (Islam), negara dan kedaulatan negara,” kata pihak IRGC melalui situs resminya, seperti dikutipReuters.

Uji tembak sejumlah rudal balistik ini terjadi dua bulan setelah AS menjatuhkan sanksiekonomi terhadap beberapa individu yang terkait dengan program rudal Iran

AS menjatuhkan sanksi setelah Iran menguji tembak rudal balistik jarak menengah Emad pada Oktober 2015 yang dianggap melanggar resolusi Dewan Keamanan PBB.

Pihak PBB menyatakan uji coba rudal Emad dilakukan setelah Iran mencapai kesepakatan nuklir dengan enam negara kekuatan dunia pada bulan Juli tahun lalu. PBB menyatakan tindakan Iran melanggar Resolusi Dewan Keamanan 1929 yang melarang Iran melalukan pekerjaan pada sektor rudal balistik berkemampuan nuklir.


Iran telah berkali-kali membantah program rudal balistiknya terkait dengan program nuklir yang disengketakan. Terlebih Iran sudah sepakat mengekang program nuklirnya dengan menjalani pemeriksaan ketat oleh IAEA.


Pemerintah Iran menegaskan bahwa Rudal Emad dan rudal lainnya hanya digunakan sebagai pencegah secara konvensional. 
Sumber: Sindonews

Ada 20 Negara yang Berpartisipasi Dalam Latihan Militer “North Thunder”


Angkatan bersenjata dari negara-negara Arab, negara-negara Islam dan negara sahabat mulai tiba di Arab Saudi pada hari Minggu (14/02) untuk berpartisipasi dalam latihan militer “North Thunder” (Guntur Utara) yang akan diselenggarakan dan dikomandoi oleh Kerajaan Arab Saudi. 

 Manuver akan diadakan di Kota Militer Raja Khalid (King Khalid Military City-KKMC) di Hafr Al-Batin dengan partisipasi 20 negara dan pasukan Semenanjung Perisai GCC yang telah dibentuk.


Negara-negara yang berpartisipasi adalah Saudi Arabia, UAE, Jordan, Bahrain, Senegal, Sudan, Kuwait, Maladewa, Maroko, Pakistan, Chad, Tunisia, Kepulauan Comoro, Djibouti, Oman, Qatar, Malaysia, Mesir, Mauritania, dan Mauritius.


North Thunder adalah latihan militer terbesar dari jenisnya dalam hal jumlah negara peserta yang terlibat dan peralatan militer yang digunakan, termasuk hadirnya model jet tempur yang berbeda, yang mencerminkan kuantitatif dan kualitatif persenjataan yang dimiliki pasukan. Latihan ini juga akan menyaksikan partisipasi dari berbagai artileri, tank, infanteri, sistem pertahanan udara, dan angkatan laut dalam simulasi untuk mencerminkan tingkat kesiapan tertinggi dari 20 negara peserta.


North Thunder mengirimkan pesan yang jelas bahwa Kerajaan Arab Saudi dan negara-negara saudara serta negara-negara sahabat yang bergabung dalam manuver ini berdiri bersama-sama dalam menghadapi semua tantangan untuk memelihara perdamaian dan stabilitas regional khususnya dan dunia pada umumnya. Sementara itu, analis mengatakan latihan ini menekankan bahwa pemimpin dari negara-negara peserta sepenuhnya setuju dengan visi Kerajaan Arab Saudi tentang pentingnya perlindungan,perdamaian dan realisasi stabilitas di kawasan itu. 


Kerajaan Arab Saudi saat ini memimpin kampanye militer terhadap pemberontak yang didukung Iran di Yaman. Pada bulan Desember lalu, Kerajaan juga mengumumkan pembentukan aliansi militer negara islam untuk melawan terorisme. 


 Sumber: Arab News